Pangeran Diponegoro, Siapa Dia Sebenarnya?

By grind
2 Menit

Pangeran Diponegoro, yang lahir dengan nama Raden Mas Mustahar pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta, adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III dan R.A. Mangkarawati, seorang selir dari Pacitan. Nama aslinya kemudian diubah menjadi Raden Mas Antawirya dan nama Islamnya adalah Abdul Hamid.

Diponegoro tumbuh dalam lingkungan keraton Jogjakarta. Meski lahir dari ibu yang bukan permaisuri, ia memiliki hak untuk naik takhta. Namun, ia lebih memilih untuk hidup dalam kesederhanaan dan berbaur dengan rakyat. Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas, banyak membaca, dan ahli di bidang hukum Islam-Jawa. Ia juga dikenal karena kegemarannya pada kuda dan memiliki lebih dari 60 orang Jawa untuk memelihara kudanya.

Pada tahun 1825, Diponegoro memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa melawan pemerintah Hindia Belanda. Perang ini berlangsung selama lima tahun dan menelan korban terbanyak dalam sejarah Indonesia, yakni 8.000 korban serdadu Hindia Belanda, 7.000 pribumi, dan 200 ribu orang Jawa serta kerugian materi 25 juta Gulden.

Perang ini dipicu oleh serangkaian reformasi tanah yang merugikan posisi ekonomi aristokrat Jawa. Diponegoro dipandang sebagai ratu adil (“pangeran adil”) yang datang untuk menyelamatkan rakyatnya, dan perjuangan ini juga dilihat sebagai jihad Muslim melawan Belanda yang dianggap kafir. Diponegoro memiliki pengikut yang kuat di wilayah Jogjakarta dan melancarkan perang gerilya yang cukup sukses selama hampir tiga tahun.

Namun, pada akhir 1828, pasukan Belanda memenangkan kemenangan besar yang menjadi titik balik dalam perang. Diponegoro akhirnya ditangkap saat melakukan negosiasi perdamaian dengan perwakilan Belanda pada tahun 1830.

Setelah perang, Diponegoro diasingkan ke Makassar, Celebes, di mana ia meninggal pada tanggal 8 Januari 1855. Kehidupannya yang penuh dedikasi untuk bangsa dan negara telah memberikan inspirasi bagi generasi berikutnya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Share This Article