Perang Udara Rusia-Ukraina: 17 Drone, Rudal, dan Api

By grind
3 Menit

Perang antara Rusia dan Ukraina tidak hanya terjadi di darat, tetapi juga di udara. Kedua negara saling menyerang dengan drone, rudal, dan api, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di kedua belah pihak.

Pada Jumat malam, 1 Maret 2024, Rusia meluncurkan 17 drone “Shahed” buatan Iran dan menembakkan tiga rudal ke wilayah Ukraina. Drone-drone itu membawa hulu ledak berisi bahan peledak dan bensin, yang dapat menyebabkan kebakaran hebat.

Ukraina berhasil menjatuhkan 14 drone, tetapi puing-puing yang berjatuhan menghancurkan beberapa bangunan tempat tinggal di kota Odesa dan Kharkiv. Sementara itu, tiga rudal mengenai target di dekat perbatasan, menewaskan sedikitnya lima tentara Ukraina.

Sebagai balasan, Ukraina juga melancarkan serangan drone pada malam hari yang sama, menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di Saint Petersburg, kota terbesar kedua di Rusia. Drone itu dikendalikan oleh tentara Ukraina dari jarak jauh, menggunakan kamera dan GPS.

Video di media sosial Rusia menunjukkan sebuah drone yang berputar ke bawah menuju gedung, memicu ledakan, meledakkan jendela, dan menyebabkan kebakaran kecil. Tidak ada laporan korban jiwa dari serangan itu, tetapi beberapa orang mengalami luka-luka.

Serangan-serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina, yang sudah berperang sejak 2014. Rusia telah mencaplok Krimea dan mendukung pemberontak pro-Rusia di Donbas, sementara Ukraina berusaha mempertahankan kedaulatan dan integritasnya.

Rusia berusaha memanfaatkan keunggulannya di medan perang, dengan memiliki pasukan, persenjataan, dan teknologi yang lebih banyak dan canggih. Ukraina, di sisi lain, bergantung pada bantuan dari sekutu-sekutunya di Eropa dan NATO, serta pada semangat juang rakyatnya.

Perang udara antara Rusia dan Ukraina menunjukkan betapa berbahayanya penggunaan drone sebagai senjata ofensif maupun defensif. Drone dapat menembus pertahanan udara, menghindari radar, dan menyerang target dengan tepat dan murah.

Namun, drone juga memiliki kelemahan, seperti rentan terhadap gangguan sinyal, cuaca buruk, dan tembakan musuh. Selain itu, drone juga menimbulkan masalah etis, seperti siapa yang bertanggung jawab atas korban sipil, bagaimana menghindari kesalahan identifikasi, dan bagaimana menghormati hukum perang.

Perang udara antara Rusia dan Ukraina belum berakhir. Kedua negara masih terlibat dalam pertempuran sengit di darat, laut, dan udara. Mereka juga masih berhadapan di meja perundingan, mencari jalan keluar dari konflik yang telah memakan ribuan nyawa.

Share This Article