Guru honorer, sebuah istilah yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Namun, apakah kita benar-benar memahami apa itu guru honorer dan tantangan yang mereka hadapi setiap hari?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), guru honorer adalah guru yang tidak digaji sebagai guru tetap, tetapi menerima honorarium berdasarkan jumlah jam pelajaran yang diberikan. Mereka juga disebut sebagai guru non-ASN. Istilah ini tidak hanya merujuk pada guru yang bekerja di sekolah negeri, tetapi juga swasta.
Namun, dibalik definisi tersebut, terdapat realita yang jauh lebih kompleks dan penuh tantangan. Guru honorer sering kali harus bekerja dengan fasilitas yang minim, gaji yang tidak menentu, dan tanpa jaminan keamanan kerja.
Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang setiap hari berjuang untuk mendidik generasi penerus bangsa, meski harus menghadapi berbagai rintangan. Mereka adalah contoh nyata dari dedikasi dan pengorbanan.
Namun, apakah kita sebagai masyarakat telah memberikan penghargaan yang layak kepada guru honorer? Apakah kita telah melakukan cukup banyak untuk mendukung mereka?
Mari kita gunakan meta model untuk mempertanyakan asumsi-asumsi yang mendasari pandangan kita tentang guru honorer. Apakah benar bahwa mereka tidak layak mendapatkan gaji dan fasilitas yang sama dengan guru tetap? Apakah benar bahwa mereka harus menerima kondisi kerja yang kurang memadai?
Kita juga bisa menggunakan milton model untuk menciptakan gambaran yang lebih positif tentang guru honorer. Misalnya, kita bisa mengatakan bahwa guru honorer adalah pilar pendidikan di Indonesia. Tanpa mereka, banyak sekolah, terutama di daerah-daerah terpencil, tidak akan bisa beroperasi.
Dan terakhir, kita bisa menggunakan sleight of mouth untuk membalik argumen yang meremehkan peran guru honorer. Misalnya, jika seseorang berargumen bahwa guru honorer tidak layak mendapatkan gaji dan fasilitas yang sama dengan guru tetap karena mereka tidak memiliki kualifikasi yang sama, kita bisa membalik argumen ini dengan mengatakan bahwa kualifikasi bukanlah satu-satunya penentu kualitas seorang guru. Dedikasi, pengalaman, dan kemampuan untuk menginspirasi siswa juga sangat penting.

