Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi sorotan publik setelah perolehan suaranya melonjak dalam beberapa hari terakhir berdasarkan hasil hitung suara manual atau real count KPU. Dari 2,86 persen pada Kamis (29/2/2024) menjadi 3,13 persen pada Sabtu (2/3/2024), PSI menambah 230.361 suara dari 2.240 tempat pemungutan suara (TPS).
Namun, lonjakan suara PSI ini menuai kecurigaan dari sebagian warganet yang menganggapnya janggal dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai hasil rekayasa atau manipulasi data oleh KPU. Benarkah demikian?
Apa Kata KPU?
KPU sendiri menegaskan bahwa hasil Pemilu 2024 yang akan disahkan oleh KPU berdasarkan rekapitulasi berjenjang, bukan data yang ditampilkan dalam situs real count KPU. Anggota KPU RI Idham Holik mengatakan bahwa situs real count KPU hanya bersifat informatif dan belum final.
“Undang-Undang Pemilu menegaskan bahwa perolehan suara peserta pemilu yang disahkan oleh KPU itu berdasarkan rekapitulasi resmi yang dilakukan mulai dari PPK, KPU kabupaten/kota, KPU Provinsi, dan KPU RI, dan saat ini sedang berlangsung rekapitulasi berjenjang tersebut,” kata Idham di Kantor KPU RI, Jakarta, Sabtu (2/3/2024).
Idham juga mengaku tidak memahami apa yang dimaksud dengan lonjakan suara PSI tersebut. Ia juga tidak menjawab lugas ketika ditanya mengenai adanya anomali data antara fakta di lapangan dengan data yang tercantum dalam situs real count. Ia justru bertanya balik kepada awak media dan menyebut bahwa pihaknya masih mengakurasi data-data yang diperoleh.
“Informasinya yang lama saja bahwa itu sedang diakurasi,” kata dia.
Idham pun tidak mengetahui persis jumlah data yang sedang diakurasi karena ia tidak memegang data tersebut.
Apa Kata PSI?
Sementara itu, PSI sendiri mengklaim bahwa lonjakan suara mereka adalah hasil kerja keras para relawan dan simpatisan yang mengawal proses penghitungan suara di TPS. Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni mengatakan bahwa PSI tidak pernah berhenti berjuang meski sempat dianggap gagal lolos parliamentary threshold.
“Kami tidak pernah berhenti berjuang. Kami terus mengawal proses penghitungan suara di TPS. Kami juga terus mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. Kami yakin bahwa suara kami akan terus bertambah seiring dengan masuknya data dari daerah-daerah yang menjadi basis kami,” ujar Antoni.
Antoni juga menepis tuduhan bahwa PSI melakukan kecurangan atau mendapat perlakuan istimewa dari KPU. Ia menantang siapa pun yang memiliki bukti untuk melaporkannya ke Bawaslu atau ke pengadilan.
“Kami siap menghadapi segala bentuk tuduhan dan fitnah. Kami siap membuktikan bahwa kami bersih dan transparan. Kami juga menghormati proses rekapitulasi yang dilakukan oleh KPU. Kami percaya bahwa KPU bekerja secara profesional dan independen,” tegas Antoni.
Apa Kata Pakar?
Pakar politik dari Universitas Indonesia, Dr. Arie Sudjito menuturkan, ada beberapa faktor yang bisa menjelaskan fenomena tersebut.
“Pertama, bisa jadi karena PSI memang memiliki basis suara yang kuat di daerah-daerah tertentu, terutama di perkotaan, yang baru masuk ke dalam data real count KPU. Kedua, bisa jadi karena PSI memiliki tim saksi yang solid dan disiplin yang mampu mengawal proses penghitungan suara di TPS. Ketiga, bisa jadi karena ada kesalahan input data oleh KPU yang kemudian dikoreksi,” papar Arie.
Arie juga mengingatkan bahwa data real count KPU bukanlah data resmi dan final, melainkan hanya data sementara yang bersifat informatif. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu terpaku pada data tersebut dan menunggu hasil rekapitulasi resmi yang dilakukan oleh KPU.
“Data real count KPU itu hanya sebagai gambaran awal, bukan sebagai acuan mutlak. Data itu bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan di lapangan. Yang penting adalah data rekapitulasi resmi yang disahkan oleh KPU. Itu yang akan menentukan siapa yang lolos dan siapa yang tidak lolos,” ujar Arie.
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa lonjakan suara PSI dalam real count KPU bukanlah fakta atau fiksi, melainkan fenomena yang bisa dijelaskan secara rasional dan logis. Lonjakan suara PSI bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari sisi PSI sendiri, maupun dari sisi KPU. Namun, data real count KPU bukanlah data resmi dan final, melainkan hanya data sementara yang bersifat informatif. Data resmi dan final adalah data rekapitulasi resmi yang disahkan oleh KPU. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan untuk tidak mudah terprovokasi oleh data real count KPU dan menunggu hasil rekapitulasi resmi yang dilakukan oleh KPU.

