Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem hidrogen sebagai sumber energi bersih dan berkelanjutan. Hidrogen adalah salah satu bahan bakar masa depan yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan ketahanan energi nasional. Namun, tantangan dan peluang apa yang dihadapi Indonesia dalam mewujudkan ekosistem hidrogen ini?
Hidrogen adalah elemen kimia yang paling melimpah di alam semesta. Hidrogen dapat dihasilkan dari berbagai sumber, seperti air, gas alam, biomassa, dan energi terbarukan. Hidrogen juga dapat digunakan untuk berbagai aplikasi, seperti transportasi, industri, pembangkit listrik, dan penyimpanan energi.
Salah satu keunggulan hidrogen adalah tidak menghasilkan emisi karbon dioksida saat digunakan. Hidrogen dapat dikategorikan menjadi tiga jenis berdasarkan proses produksinya, yaitu:
- Hidrogen abu-abu, yang dihasilkan dari gas alam atau batu bara dengan melepaskan karbon dioksida ke atmosfer.
- Hidrogen biru, yang dihasilkan dari gas alam atau batu bara dengan menangkap dan menyimpan karbon dioksida yang dihasilkan.
- Hidrogen hijau, yang dihasilkan dari air dengan menggunakan listrik dari energi terbarukan, seperti angin, matahari, atau panas bumi.
Dari ketiga jenis hidrogen tersebut, hidrogen hijau adalah yang paling ramah lingkungan dan berkelanjutan. Hidrogen hijau juga memiliki potensi pasar yang besar, baik di dalam maupun luar negeri.
Menurut data International Energy Agency (IEA), permintaan hidrogen global pada tahun 2020 mencapai 70 juta ton per tahun, dengan sebagian besar berasal dari hidrogen abu-abu. IEA memperkirakan bahwa permintaan hidrogen global akan meningkat hingga 200 juta ton per tahun pada tahun 2030, dengan sebagian besar berasal dari hidrogen hijau.
Indonesia memiliki potensi untuk menjadi produsen dan konsumen hidrogen hijau yang besar. Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah, seperti panas bumi, tenaga surya, tenaga angin, dan biomassa. Indonesia juga memiliki kebutuhan energi yang besar, terutama untuk sektor transportasi, industri, dan listrik.
Untuk mengembangkan ekosistem hidrogen di Indonesia, diperlukan kerjasama antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:
- Membangun infrastruktur produksi, penyimpanan, distribusi, dan penggunaan hidrogen, seperti pabrik hidrogen, stasiun pengisian bahan bakar hidrogen (SPBUH), dan kendaraan berbahan bakar hidrogen (FCEV).
- Membuat regulasi dan kebijakan yang mendukung pengembangan hidrogen, seperti insentif fiskal, standar kualitas, dan skema sertifikasi.
- Melakukan riset dan inovasi untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi hidrogen, serta mengembangkan teknologi lokal yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
- Melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat dan keamanan hidrogen sebagai sumber energi bersih dan berkelanjutan.
Ekosistem hidrogen adalah solusi energi bersih untuk Indonesia. Dengan mengembangkan ekosistem hidrogen, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan ketahanan energi nasional, dan menciptakan peluang ekonomi baru. Ekosistem hidrogen adalah masa depan energi Indonesia.

