Mengapa Indonesia Perlu Mempercepat Hilirisasi Nikel? – Opini

By firman
6 Menit

Nikel adalah salah satu komoditas strategis yang dimiliki Indonesia. Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia dengan cadangan mencapai 21 juta ton. Nikel memiliki peran penting dalam mendukung industri kendaraan listrik (EV), yang merupakan salah satu sektor yang sedang berkembang pesat di dunia. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan nilai tambah dari nikel, yaitu melalui proses hilirisasi. Hilirisasi nikel adalah proses pengolahan nikel menjadi produk turunan yang lebih bernilai, seperti feronikel, nikel matte, nikel sulfat, dan baterai litium. Artikel ini akan membahas mengapa Indonesia perlu mempercepat hilirisasi nikel untuk mendukung industri EV, apa saja tantangan dan peluang yang dihadapi, serta apa saja langkah-langkah yang perlu dilakukan.

Alasan Mempercepat Hilirisasi Nikel

Ada beberapa alasan mengapa Indonesia perlu mempercepat hilirisasi nikel untuk mendukung industri EV. Pertama, hilirisasi nikel dapat meningkatkan nilai tambah dari nikel, yang saat ini masih didominasi oleh ekspor bijih mentah. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), nilai ekspor bijih nikel Indonesia pada tahun 2023 mencapai 11,8 miliar dolar AS, sedangkan nilai ekspor produk turunan nikel hanya 6,4 miliar dolar AS. Dengan hilirisasi nikel, Indonesia dapat meningkatkan pendapatan negara, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan pada impor produk turunan nikel.

Kedua, hilirisasi nikel dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam industri EV, yang merupakan pasar potensial bagi nikel. Menurut data Bloomberg New Energy Finance (BNEF), penjualan EV global pada tahun 2023 mencapai 4,6 juta unit, naik 43 persen dari tahun sebelumnya. Penjualan EV diprediksi akan terus meningkat hingga mencapai 31,1 juta unit pada tahun 2030. EV membutuhkan baterai sebagai sumber energinya, dan baterai membutuhkan nikel sebagai salah satu bahan bakunya. Nikel berperan dalam meningkatkan kapasitas, daya tahan, dan efisiensi baterai. Dengan hilirisasi nikel, Indonesia dapat memproduksi baterai sendiri dan memasoknya ke produsen EV, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Ketiga, hilirisasi nikel dapat mendukung pembangunan berkelanjutan dan rendah karbon di Indonesia. Industri EV merupakan salah satu solusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor transportasi, yang merupakan penyumbang terbesar kedua setelah sektor energi. Menurut data International Energy Agency (IEA), sektor transportasi menyumbang 24 persen dari emisi GRK global pada tahun 2023. Dengan beralih ke EV, emisi GRK dari sektor transportasi dapat dikurangi hingga 50 persen pada tahun 2030. Hilirisasi nikel juga dapat mengurangi dampak lingkungan dari penambangan nikel, yang sering menimbulkan masalah seperti pencemaran air, tanah, dan udara, serta kerusakan lahan dan hutan. Dengan hilirisasi nikel, Indonesia dapat memanfaatkan nikel secara lebih efisien dan bertanggung jawab.

Tantangan dan Peluang Hilirisasi Nikel

Meskipun memiliki banyak manfaat, hilirisasi nikel juga menghadapi beberapa tantangan yang perlu diatasi. Pertama, hilirisasi nikel membutuhkan investasi yang besar dan teknologi yang canggih. Menurut data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), biaya investasi untuk membangun satu pabrik hilirisasi nikel mencapai 1,5 miliar dolar AS. Selain itu, teknologi hilirisasi nikel, terutama untuk produksi baterai, masih didominasi oleh negara-negara maju, seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Indonesia masih membutuhkan kerja sama dan transfer teknologi dari negara-negara tersebut untuk mengembangkan industri hilirisasi nikel.

Kedua, hilirisasi nikel menghadapi persaingan yang ketat dari negara-negara produsen nikel lainnya, seperti Filipina, Rusia, dan Australia. Negara-negara ini juga berupaya untuk mengembangkan industri hilirisasi nikel, terutama untuk memasok pasar EV yang semakin besar. Menurut data Wood Mackenzie, kapasitas produksi nikel sulfat global pada tahun 2023 mencapai 800.000 ton, dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 2,5 juta ton pada tahun 2030. Indonesia saat ini hanya memiliki kapasitas produksi nikel sulfat sebesar 40.000 ton per tahun, jauh di bawah China yang memiliki kapasitas 600.000 ton per tahun. Indonesia perlu meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi nikel sulfat untuk bersaing dengan negara-negara lain.

Ketiga, hilirisasi nikel membutuhkan dukungan dari pemerintah, industri, dan masyarakat. Pemerintah perlu memberikan insentif dan fasilitas bagi investor yang berminat untuk mengembangkan industri hilirisasi nikel, seperti kemudahan perizinan, pembebasan pajak, subsidi bunga, dan perlindungan pasar. Industri perlu meningkatkan kerja sama dan sinergi antara pelaku usaha di sektor hulu dan hilir nikel, serta mengembangkan riset dan inovasi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi. Masyarakat perlu mendukung dan mengawasi pelaksanaan hilirisasi nikel, serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam penggunaan EV sebagai alternatif transportasi ramah lingkungan.

Di sisi lain, hilirisasi nikel juga membuka peluang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan dan kedaulatan nasional. Pertama, hilirisasi nikel dapat meningkatkan nilai ekspor dan devisa negara. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor nikel Indonesia pada tahun 2023 mencapai 18,2 miliar dolar AS, naik 19 persen dari tahun sebelumnya. Dengan hilirisasi nikel, nilai ekspor nikel Indonesia dapat meningkat lebih tinggi, seiring dengan permintaan global yang terus meningkat. Menurut data BNEF, permintaan nikel untuk baterai EV global pada tahun 2023 mencapai 200.000 ton, dan diprediksi akan meningkat menjadi 1,4 juta ton pada tahun 2030.

Kedua, hilirisasi nikel dapat menciptakan multiplier effect bagi perekonomian nasional. Hilirisasi nikel dapat menyerap tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung, dari berbagai sektor terkait, seperti pertambangan, metalurgi, kimia, listrik, transportasi, dan perdagangan. Menurut data Kementerian Perindustrian, industri hilirisasi nikel dapat menciptakan 300.000 lapangan kerja langsung dan 900.000 lapangan kerja tidak langsung. Hilirisasi nikel juga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah-daerah penghasil nikel, seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Share This Article