Nasib Non ASN: Di Antara Harapan dan Realitas – Opini

By firman
3 Menit

Guru non ASN, atau yang lebih dikenal sebagai guru honorer, adalah sekelompok pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang di garis depan pendidikan di Indonesia. Mereka mengajar, mendidik, dan membimbing generasi penerus bangsa, meski harus menghadapi berbagai tantangan dan ketidakpastian.

Menurut data dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB), tercatat sebanyak 2.355.092 pegawai non ASN yang sudah terdata dan terverifikasi BKN di seluruh Indonesia. Jumlah ini tentu saja sangat besar, dan sebagian besar di antaranya adalah guru honorer.

Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat realitas yang pahit. Guru honorer sering kali harus bekerja dengan gaji yang tidak menentu, fasilitas yang minim, dan tanpa jaminan keamanan kerja. Mereka adalah contoh nyata dari ketidakadilan dalam sistem pendidikan kita.

Namun, bukan berarti tidak ada harapan. Pemerintah telah menyatakan bahwa mereka sedang mencari solusi alternatif yang terbaik bagi non-ASN, termasuk guru honorer. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah pengangkatan guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Namun, meski harapan ini ada, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Apakah solusi ini akan cukup untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh guru honorer? Apakah ini akan cukup untuk memberikan mereka kehidupan yang layak dan penghargaan yang mereka layak dapatkan?

Mari kita gunakan meta model untuk mempertanyakan asumsi-asumsi yang mendasari pandangan kita tentang guru non ASN. Apakah benar bahwa mereka tidak layak mendapatkan gaji dan fasilitas yang sama dengan guru tetap? Apakah benar bahwa mereka harus menerima kondisi kerja yang kurang memadai?

Kita juga bisa menggunakan milton model untuk menciptakan gambaran yang lebih positif tentang guru non ASN. Misalnya, kita bisa mengatakan bahwa guru non ASN adalah pilar pendidikan di Indonesia. Tanpa mereka, banyak sekolah, terutama di daerah-daerah terpencil, tidak akan bisa beroperasi.

Dan terakhir, kita bisa menggunakan sleight of mouth untuk membalik argumen yang meremehkan peran guru non ASN. Misalnya, jika seseorang berargumen bahwa guru non ASN tidak layak mendapatkan gaji dan fasilitas yang sama dengan guru tetap karena mereka tidak memiliki kualifikasi yang sama, kita bisa membalik argumen ini dengan mengatakan bahwa kualifikasi bukanlah satu-satunya penentu kualitas seorang guru. Dedikasi, pengalaman, dan kemampuan untuk menginspirasi siswa juga sangat penting.

Share This Article