Raden Aria Wangsakara, yang umumnya dianggap sebagai pendiri Tangerang, adalah seorang dalem (kepala daerah), ulama dan pejuang Muslim keturunan Kerajaan Sumedang Larang. Tidak ada catatan pasti kapan dan di mana Raden Aria Wangsakara lahir. Ia merupakan putra dari Wiraraja I, anak dari prabu Kusumadinata II dan Harisbaya. Ia juga masih keturunan dari Syarif Abdulrohman dari Cirebon.
Narasi tradisional menyatakan bahwa, ketika Perusahaan Hindia Timur Belanda semakin berpengaruh di wilayah tersebut, Aria Wangsakara menolak kerjasama keluarganya dengan mereka dan pergi dengan dua kerabat pada tahun 1632, yakni Aria Santika dan Aria Yuda Negara, untuk pergi ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Tangerang di tepi Sungai Cisadane. Di sana ia mendirikan pemukiman baru, yakni Kesultanan Lengkong Sumedang, di tepi barat Sungai Cisadane dengan dirinya sebagai sultan daerah dengan nama Sultan Lengkong.
Selama dia memerintah di sana, dia dikatakan telah bekerja untuk menyebarkan Islam di wilayah sekitarnya, mendirikan pesantren baru pada tahun 1640-an. Pada awal 1650-an, Perusahaan Hindia Timur Belanda membangun sebuah benteng di tepi seberang dari pemukimannya untuk menandakan batas wilayah kekuasaan mereka di daerah tersebut.
Wangsakara diperkirakan meninggal pada tahun 1681 dan dimakamkan di Pagedangan. Sebagai pendiri Tangerang, sebuah jalan besar di kota ini dinamai menurut namanya (Jalan Arya Wangsakara). Makamnya, yang dikelilingi oleh makam ulama lain dari daerah itu, juga dijadikan situs sejarah resmi oleh Kabupaten Tangerang dan telah lama dikunjungi secara rutin oleh para peziarah.
Pada November 2021, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo. Meski telah tiada, semangat juang dan perjuangannya tetap menginspirasi banyak orang hingga saat ini. Raden Aria Wangsakara adalah pahlawan nasional Indonesia yang namanya akan selalu dikenang dalam sejarah bangsa ini.

