Mengapa Komentar Jerome Powell Membuat Pasar Saham AS Melonjak
Wall Street, pusat keuangan dunia, baru saja mengalami kenaikan yang signifikan pada hari Rabu, 6 Maret 2024. Indeks saham utama AS, seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq, semuanya ditutup naik lebih dari setengah persen. Apa yang menyebabkan kenaikan ini? Jawabannya ada di kata-kata Jerome Powell, Ketua Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS.
Powell, yang dikenal sebagai sosok yang berhati-hati dan berwibawa, memberikan sinyal kuat bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya tahun ini. Suku bunga acuan adalah tingkat bunga yang dikenakan The Fed kepada bank-bank komersial untuk meminjam uang. Suku bunga ini berpengaruh besar terhadap aktivitas ekonomi, karena menentukan biaya pinjaman bagi perusahaan dan konsumen.
Saat suku bunga rendah, pinjaman menjadi lebih murah dan lebih mudah didapatkan. Ini mendorong perusahaan untuk berinvestasi dan berekspansi, serta konsumen untuk belanja dan mengambil kredit. Hal ini akan meningkatkan permintaan, produksi, dan lapangan kerja, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, saat suku bunga tinggi, pinjaman menjadi lebih mahal dan lebih sulit didapatkan. Ini akan menekan perusahaan dan konsumen untuk menghemat dan menabung, yang akan menurunkan permintaan, produksi, dan lapangan kerja, yang pada akhirnya akan menekan pertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian, suku bunga adalah salah satu alat kebijakan moneter yang paling penting bagi The Fed untuk mengatur kondisi ekonomi. The Fed biasanya menaikkan suku bunga saat ekonomi sedang panas dan inflasi sedang tinggi, untuk mencegah ekonomi menjadi terlalu panas dan inflasi menjadi terlalu tinggi. Sebaliknya, The Fed biasanya menurunkan suku bunga saat ekonomi sedang dingin dan inflasi sedang rendah, untuk mendorong ekonomi menjadi lebih hangat dan inflasi menjadi lebih tinggi.
Nah, saat ini, ekonomi AS sedang menghadapi tantangan yang cukup besar. Di satu sisi, ekonomi AS masih belum pulih sepenuhnya dari dampak pandemi Covid-19, yang menyebabkan resesi terparah sejak Depresi Besar pada tahun 2020. Di sisi lain, ekonomi AS juga menghadapi tekanan inflasi yang cukup tinggi, yang dipicu oleh lonjakan harga-harga komoditas, barang-barang impor, dan tenaga kerja, akibat gangguan rantai pasokan global dan stimulus fiskal yang besar-besaran.
Dalam situasi seperti ini, The Fed berada di posisi yang dilematis. Jika The Fed menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, maka The Fed akan memperburuk pemulihan ekonomi, yang masih rapuh dan tidak merata. Jika The Fed menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan, maka The Fed akan memperparah inflasi, yang sudah melebihi targetnya. Jadi, apa yang harus dilakukan The Fed?
Inilah yang dijawab oleh Powell dalam pidatonya yang sangat dinanti-nantikan di depan Kongres AS pada hari Rabu. Powell mengatakan bahwa The Fed memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini, karena inflasi telah menurun secara substansial sejak mencapai level tertinggi dalam 40 tahun pada tahun 2022. Powell mengatakan bahwa penurunan inflasi ini sebagian besar disebabkan oleh faktor-faktor sementara, yang akan mereda seiring dengan normalisasi aktivitas ekonomi. Powell juga mengatakan bahwa The Fed masih membutuhkan kepercayaan yang lebih besar terhadap penurunan inflasi ini, sebelum melakukan penurunan suku bunga.
Pidato Powell ini disambut dengan sorak-sorai oleh pasar saham AS, karena dianggap sebagai sinyal yang dovish, atau bersahabat dengan pasar. Pasar saham AS berharap bahwa penurunan suku bunga akan memberikan dorongan bagi ekonomi AS, yang masih membutuhkan dukungan dari kebijakan moneter. Pasar saham AS juga berharap bahwa penurunan suku bunga tidak akan terlalu cepat dan terlalu besar, sehingga tidak akan mengganggu keseimbangan pasar keuangan.
Namun, tidak semua orang setuju dengan pandangan Powell. Beberapa analis dan ekonom mengkritik Powell karena terlalu optimis dan terlalu lambat dalam menanggapi inflasi. Mereka mengatakan bahwa inflasi tidak hanya disebabkan oleh faktor-faktor sementara, tetapi juga oleh faktor-faktor struktural, seperti perubahan perilaku konsumen, permintaan yang kuat, dan kekurangan pasokan. Mereka mengatakan bahwa The Fed harus segera menaikkan suku bunga, sebelum inflasi menjadi tidak terkendali dan merusak kepercayaan publik.
Siapa yang benar, Powell atau para kritikusnya? Hanya waktu yang akan menjawab. Yang pasti, komentar Powell telah membuat Wall Street bersorak, sementara The Fed berbisik. Apakah ini akan berlanjut, atau akan berubah? Mari kita tunggu dan lihat.

